Membumikan Kembali Permainan Tradisional

Permainan tradisional adalah salah satu bagian dari ragam kebudayaan yang tumbuh di Indonesia. Sebelum gempuran perkembangan teknologi muncul, aneka permainan tradisional sempat mewarnai kehidupan anak-anak Indonesia. Kini permainan tradisional nyaris sudah mati tergeser oleh permainan gadget.

            Untuk menghidupkan  kembali permainan tradisional, OSIS SMP Negeri 2 Balapulang mengadakan perlombaan permainan tradisional dalam rangka memperingati HUT RI ke 74. Lomba dilaksanakan hari Senin, 12 Agustus 2019 dihalaman sekolah. Kegiatan lomba diikuti oleh perwakilan masing-masing kelas. Adapun permainan yang dilombakan diantaranya: Jaranan, Semprengan, Hulahup, Egrang, dan Bakiak. Masing-masing permainan tersebut memiliki ciri dan tampilan yang berbeda namun tujuannya tetap sama yaitu untuk memupuk kerjasama tim, melatih keseriusan dalam melakukan sesuatu dan yang tak kalah pentingnya membuat suasana gembira.

            Menurut Kepala SMP Negeri 2 Balapulang, Hj. Ratminingsih, S.Pd, M.Pd, permainan tradisional digelar dengan tujuan agar anak-anak tidak melupakan permainan tradisional. Kemudian para siswa dapat mengubah kebiasaan bermain hp dengan permainan tradisional.

            Permainan jaranan misalnya melatih keseragaman dalam gerakan dan kelincahan gerakan. Berbeda dengan permainan egrang dan bakiak yang melatih keseimbangan gerak juga kecermatan. Sedangkan permainan hulahup melatih konsentrasi dalam gerakan-gerakan yang indah secara terus menerus.

            Permainan tradisional di atas dalam pelaksanaannya bisa dilakukan secara kelompok maupun individu. Dalam kelompok itulah ada pembelajaran kebersamaan dan kekompakkan. Hal itu tentunya tidak ada dalam permainan modern. Permainan tradisional tersebut kebanyakan dibuat dari bahan-bahan yang berasal dari alam atau bahan-bahan yang sangat mudah didapatkan. Misalkan egrang dibuat dari bambu, lari tongkat yang hanya menggunakan kayu pada saat permainannya, dan Jaranan dibuat dari pelepah pisang. (Priska Mauliya Putri)

Pesona Keindahan Destinasi Wisata Bukit Rangkok

Apakah kamu tahu wisata Bukit Rangkok? Ya, Bukit Rangkok merupakan wisata  yang masih  hangat  di Kabupaten  Tegal. Bukit Rangkok merupakan bukit yang dulunya banyak burung Rangkok. Sebab perkembangan zaman burung Rangkok sudah mulai punah.  Sebelum di jadikan wisata, dulu bukit Rangkok dinamakan bukit Ancik atau Pengancikan. Bukit Rangkok kini dijadikan wisata untuk menjaga kelestarian alam, memberdayakan atau meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, dengan adanya wisata secara umum  mengangkat derajat dan martabat desa Pagerwangi, mengurangi urbanisasi dari desa ke kota.

Wawancara dengan Kades Pagerwangi (foto:Pipin)

            Wisata Bukit Rangkok diresmikan oleh Bupati Tegal Dra.Hj.Umi Azizah pada hari Senin, 24 Juni 2019 bertempat di desa Pagerwangi RT 03 RW 01  Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Menurut Waluyo selaku Kepala Desa Pagerwangi, mengatakan bahwa batuan bukit Rangkok  itu unik dan tidak dimiliki oleh daerah-daerah lainnya. Selama ini Desa Pagerwangi akan mengkaji bukit Rangkok dengan mengedepankan kearifan lokal yaitu,  setiap orang bisa mengambil satu hikmah dari alam, bahwa alam bisa memberikan kebaikan dan manfaat ketika kita juga memanfaatkan pada alam .

            Wisata  Bukit Rangkok memiliki jalur pendakian atau Via Ferata ada single land atau jembatan besi yang dilewati oleh pengunjung dengan kemampuan dan keberanian yang tinggi, adapun skybet ataupun jembatan kayu dengan tantangan 20-25 meter untuk melewatinya. Ada beberapa bukit untuk spot selfie pada sore hari atau nama lainnya sunset. Pada puncak bukit Rangkok pengunjung dapat melihat desa-desa yang ada di kabupaten Tegal. Selain itu, disana juga terdapat outbond, tempat jajanan lokal, dan berbagai tanaman seperti petai, durian, dan jengkol.

            Dulu Bukit Rangkok tidak terawat, tetapi masih ada pengunjung yang datang walaupun tidak ada hal yang menarik di sana. Berbeda dengan saat ini setelah dibukanya wisata Via Ferata Bukit Rangkok  dengan fasilitas sudah terpenuhi walaupun belum semua yang datang ke bukit Rangkok  merasa senang. Sehingga jumlah pengunjung pada bulan kemarin mencapai sekitar 1.472 lebih. Adapun ciri khas bukit Rangkok ialah memiliki beberapa bentangan batu yang isinya batu breksit . Ada juga beberapa batu yang menonjol tapi kuat dan tidak dapat jatuh.

            Hadirnya wisata Bukit Rangkok ini dapat dijadikan potensi ekonomi desa dan juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat serta menciptakan lapangan pekerjaan untuk anak-anak muda. Selanjutnya  tempat wisata ini dapat menjadi pilihan masyarakat Kabupaten Tegal. (Agus Susilo).

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai